DARI CANGKUL KE SMARTPHONE: WALI KOTA JAMBI AJAK BUDAK MUDO JADI “ARSITEK AGROTEKNOLOGI”, DAK ZAMAN LAGI TANI KOTOR-KOTORAN!

Berita Utama22 Dilihat

JAMBI, 05.10.2026 – Kanti-kanti mudo di Kota Jambi, bayangkan bertani tapi dak perlu lagi berjemur panas-panasan sambil megang cangkul di tengah lumpur. Paradigma usang ini resmi didobrak oleh Wali Kota Jambi melalui visi besar transformasi pertanian perkotaan. Menjadi narasumber utama dalam seminar nasional di acara National Agriculture Competition Week 2026, Wali Kota Jambi memaparkan cetak biru masa depan lumbung pangan kota yang kini bertumpu pada layar smartphone.

Acara bergengsi yang digelar di Universitas Jambi pada 3 Oktober 2026 pukul 14.30 WIB ini mengusung tema agung, yaitu “Sinergi Generasi Muda Dalam Mengembangkan Kreativitas dan Inovasi Berbasis Teknologi Untuk Transformasi Pertanian yang Berkelanjutan”. Mewakili Pemerintah Kota Jambi, Wali Kota menyentil realitas bahwa generasi milenial dan Gen Z kerap memiliki antipati psikologis terhadap pertanian konvensional. Alasannya klasik: identik dengan kerja manual, berlumpur, risiko cuaca tinggi, dan marjin keuntungan yang tipis.

“Ngapo lahan tidur di kota kito biarkan semak berukar? Kito harus bangunkan! Tapi yang ngurusnyo bukan lagi kuli tani biasa, melainkan budak-budak mudo Jambi yang jago teknologi,” tegas narasi kebijakan yang ditawarkan dalam ekosistem pertanian modern tersebut.

Revolusi 4.0: Lahirnya ‘Arsitek Agroteknologi’ Jambi Untuk merespons minat milenial yang tinggi terhadap teknologi, Pemerintah Kota Jambi menyiapkan konsep inkubator Smart Urban Farming. Anak muda tidak lagi sekadar diberi cangkul dan benih, melainkan dipersenjatai dengan IoT (Internet of Things) Agriculture Kit.

  • Bertani Lewat Layar HP: Budidaya, seperti sistem hidroponik presisi, akan dilengkapi sensor digital untuk memantau unsur hara (N-P-K), suhu udara, dan tingkat pH air. Semuanya dikendalikan otomatis menggunakan modul mikrokontroler yang terhubung langsung ke smartphone.
  • Perubahan Status Sosial: Intervensi teknologi ini dirancang untuk mengubah mindset dan persepsi anak muda dari sekadar “kuli tani” menjadi sebuah profesi bergengsi yang disebut “Arsitek Agroteknologi” yang sangat adaptif terhadap revolusi industri 4.0.

Pendekatan ini sangat strategis dan masuk di akal nian untuk diterapkan di kawasan padat penduduk dengan ruang terbatas, menuntut ekosistem yang nantinya juga terintegrasi dengan digital marketing dan e-commerce untuk memutus rantai tengkulak yang merugikan.

Bukan Sekadar Omong Kosong: Bukti Nyata “Lagrokoja” Lompatan inovasi ini bukanlah wacana di atas kertas. Komitmen Pemerintah Kota Jambi dalam mengamankan tata ruang pangan telah terbukti melalui proyek Lahan Abadi Agro Kota Jambi (LAGRO KOJA). Proyek yang berdiri kokoh di atas hamparan lahan seluas 13,5 hektar ini sukses mengintegrasikan kolaborasi lintas instansi untuk menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.

Bahkan, prestasi ini telah diakui secara nasional. Pemerintah Kota Jambi berhasil meraih predikat Terbaik Ke-2 Nasional (Juara II) dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Awards (I-SIM) 2025 yang digelar oleh Bappenas pada 19 November 2025 lalu. Proyek Lagrokoja dinilai sangat adaptif terhadap perubahan iklim dan responsif menjaga ketahanan pangan lokal.

Kini, tugas selanjutnya adalah menularkan keberhasilan tersebut kepada generasi muda. Dengan memadukan kearifan lokal Jambi yang gotong royong dan kecanggihan agroteknologi, Jambi optimis mencetak pahlawan-pahlawan pangan baru. Dak zaman lagi tani kotor-kotoran, kito buktikan budak Jambi biso beprestasi dan cuan dari tanahnyo dewek!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *