Aset Daerah Terabaikan: GOR Lama Serunai Baru Bungo Memprihatinkan, Pemerintah Menunggu Apa?

Berita Utama121 Dilihat

KOTA BUNGO — Gedung Olahraga (GOR) Lama Serunai Baru, yang berdiri di jantung Kabupaten Bungo, kini jauh dari kesan layak. Sarana publik yang dulunya menjadi kawah candradimuka atlet lokal serta pusat kegiatan pemuda tersebut kini tampak memprihatinkan, tak terurus, dan memicu keprihatinan masyarakat.

​Pantauan di lokasi menunjukkan deretan kerusakan dan penurunan fungsi fasilitas dasar yang sangat mengganggu. Sampah tampak menumpuk dan berserakan di berbagai sudut area gedung tanpa pengelolaan yang memadai. Kondisi diperparah oleh fasilitas toilet yang kumuh dan tidak terurus, serta tidak tersedianya pasokan air bersih. Selain itu, sistem kelistrikan gedung pun bermasalah, ditandai dengan aliran listrik yang sering padam atau turun saat kegiatan berlangsung.

​Jeritan Atlet: Harus Menumpang ke Rumah Warga

​Dampak terbengkalainya fasilitas ini dirasakan langsung oleh para atlet yang mencoba bertahan menggunakannya. Audi, salah seorang atlet pencak silat asal Kota Jambi yang pernah berlatih dan bertanding di sana, membeberkan pahitnya kondisi di lapangan. Menurutnya, ketiadaan fasilitas dasar sangat menyulitkan para atlet.

​”Kondisinya sangat menyedihkan. Untuk sekadar buang air kecil saja, kami para atlet harus menumpang ke tempat atau rumah warga sekitar karena toilet di GOR tidak bisa digunakan dan sama sekali tidak ada air. Belum lagi listrik yang sering turun dan sampah di mana-mana,” ungkap Audi.

​Bagi para atlet dan penggiat olahraga, situasi ini ibarat tamparan keras. Di tengah jargon pembinaan prestasi yang nyaring didengungkan, sarana paling mendasar seperti sanitasi, air bersih, dan kelistrikan justru diabaikan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu fokus latihan, tetapi juga mengikis rasa nyaman dan martabat para atlet yang membawa nama daerah.

​Dilema Anggaran dan Tanggapan Pemerintah Daerah

​Di sisi lain, persoalan pemeliharaan sarana olahraga sering kali membentur tembok klasik: keterbatasan anggaran operasional dan perawatan. Pihak dinas terkait di Kabupaten Bungo kerap berada dalam dilema antara pembagian porsi APBD untuk infrastruktur umum prioritas dan biaya perawatan fasilitas publik pendukung.

​Sumber dari internal dinas terkait mengindikasikan bahwa usulan pemeliharaan dan perbaikan jaringan utilitas gedung sejatinya telah beberapa kali masuk dalam pembahasan anggaran. Namun, keterbatasan alokasi dana serta prioritas pembangunan lain membuat penanganan operasional berkala—seperti penanganan sampah, pembenahan sanitasi, perbaikan pompa air, dan peremajaan instalasi listrik—sering kali tertunda.

​Selain masalah anggaran, kejelasan skema pengawasan dan pemanfaatan aset juga menjadi catatan tersendiri. Tanpa adanya skema pengelolaan yang jelas—baik melalui penunjukan pengelola khusus maupun kemitraan—fasilitas publik seperti GOR Lama Serunai Baru rentan mengalami masalah operasional mendasar secara berulang.

​Menagih Langkah Konkret

​Membiarkan GOR Lama Serunai Baru dalam kondisi tanpa air, minim listrik, dipenuhi sampah, hingga memaksa atlet menumpang ke rumah warga mencerminkan lemahnya pemeliharaan aset daerah. Pemeliharaan fasilitas publik tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai beban pengeluaran belaka, melainkan investasi sosial jangka panjang bagi generasi muda.

​Masyarakat, atlet, dan komunitas olahraga kini menunggu langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Bungo. Perbaikan sarana dasar seperti sanitasi, pasokan air bersih, dan kelistrikan harus segera diprioritaskan agar fasilitas ini dapat kembali berfungsi secara layak dan terhormat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *